Review Yamaha Lexi 125, Jangan Berkomentar Sebelum Mencoba

test ride Yamaha Lexi 125

Review Yamaha Lexi 125

SemarMoto – Lexi 125 merupakan keluarga maxi series dari Yamaha, kalau saudaranya berkapasitas mesin lebih besar. Yamaha Lexi hanya 125cc, namun skutik ini tidak salah disebut sebagai keluarga maxi series loh! Ingin tau alasannya? Nah silakan dibaca sampai tuntas review Yamaha Lexi 125 ini, akan saya bahas tentang berbagai aspek.

Review Yamaha Lexi 125 ini bukan asal-asalan, sebab saya berkesempatan melakukan test ride Lexi 125 di BYMS Semarang. Acara ini berlangsung dari tanggal 21-22 April 2018, untuk ulasan Bluecore Yamaha Motor Show 2018 Semarang nanti akan ditulis terpisah. Tulisan review Yamaha Lexi 125 ini saya rasa bakal panjang, siapkan cemilan yah untuk membacanya biar gak bosan!


Oh iya yang saya coba adalah Yamaha Lexi S 125, versi paling tinggi dan berfitur banyak. Test ride Yamaha Lexi S 125 ini tidak cuma muter parkiran saja loh! Secara total saya menempuh jarak 15 km, jadi boleh donk menuliskan review Yamaha Lexi 125? Sebenarnya kalau pengunjung biasa sih gak bakal dibolehin sama panitia keluar area test ride. Tapi berhubung bos Yamaha Jateng yang menyuruh, masa saya gak mau? Dari jalan pelan, santai, nikung, melewati lubang dan trek lurus sudah saya coba. Hehehe… Nih hasilnya.

Review Yamaha Lexi 125

Review Yamaha Lexi 125

Desain Yamaha Lexi 125.

Impresi petama kali melihat Yamaha Lexi 125 kalau dari penilaian saya memang kurang menarik jika dilihat dari depan. Trend motor jaman sekarang kan menyudut tajam, tapi Lexi 125 ini mengotak dan lampu depannya itu besar. Ada rongga yang agak lebar dari spakbor ke lampu utama, ya menurut saya kurang sporty lah. Yah yang namanya desain itu memang masalah selera, setiap orang tentu tidak sama.

Ergonomi Yamaha Lexi 125.

Tinggi badan saya +/- 175 cm dan bobot +/- 65 kg. Ketika naik Lexi 125 kalau kaki mau menapak sempurna harus agak ke depan sedikit, soalnya tinggi jok 785 mm. Oh iya tidak cuma tinggi, tapi joknya juga lebar vroh. Duduk diatasnya nyaman, busa empuk, posisi stang tinggi, badan tegak. Dek bagian kaki luas, kaki bisa agak selonjor dengan duduk sedikit mundur. Kalau tinggi sampean di bawah saya sih tidak perlu mundur duduknya.

Review Yamaha Lexi S 125

 

Handling Yamaha Lexi 125.

Saat naik Yamaha Lexi 125 itu menurut saya nyaman dan rilex. Motor tidak terlalu panjang dan lebar, saat digunakan untuk selap selip di kepadatan jalan raya motor ini antep dan nurut. Untuk menikung parabolik juga enak, kebetulan waktu itu melewati semacam bundaran sih.

Performa Mesin Yamaha Lexi 125.

Lexi S 125 yang saya pakai itu odometernya masih 4 km, masih rendah bingit dan bau motor baru. Sebenarnya kurang fair jika berbicara soal performa, sebab part di dalam mesin rapat alias belum mapan. Jangan bilang kalau motor modern baru itu gak butuh inrayen, semua tentu butuh penyesuaian, gak percaya? Bisa tanya insinyur mesin, lha koq malah melebar, balik lagi soal review Yamaha Lexi 125 yak! Tarikan bawah halus, cukup responsif untuk ukuran mesin 125cc. Berkendara di kecepatan rendah sampai menengah feel nya anteng, mirip seperti Yamaha Nmax 155.

Nah ketika saya coba bejek di jalan lurus BSB (Bukit Semarang Baru), dari utara ke selatan. Kan jalannya lurus tuh, agak ramai tapi tidak terlalu padat sih. Saat 6.000 rpm, Variable Valve Actuation (VVA) bekerja, tenaga tambahan cukup terasa, laju motor jadi bertambah cepat. Namun angka di speedometer terlihat masih pelan, sekitar 90 km/jam, sebenarnya masih bisa naik tapi kondisi jalan tidak memungkinkan.

Review Yamaha Lexi S 125

• Pengereman dan Suspensi Yamaha Lexi 125.

Soal pengereman motor dari Yamaha tidak perlu diragukan lagi, pasti pakem. Cuma saat saya rasakan rem Yamaha Lexi S 125 kurang menggigit, baru sadar kalau odometer masih rendah. Jadi menurut saya wajar, masih dalam tahap penyesuaian kondisi baru, tetap pakem tapi tidak pakai banget. Rem belakang saya rasakan juga sama seperti rem depan.

Masih ingat kan kalau yang saya ulas adalah Yamaha Lexi S 125? Suspensi belakang pakai tipe tabung, dengan bobot +/- 65 kg, yang saya rasakan itu tetap nyaman. Baik saat melewati jalan bergelombang, berlubang, aspal dan beton. Tau sendiri kan kalau jalan beton itu meskipun terlihat rata tapi sebenarnya tetap gak sehalus jalan aspal. Tidak ada gejala jedug-jedug seperti saat melakukan review Yamaha Aerox 155 ABS.

Kesimpulan Review Yamaha Lexi 125

Semua sudah saya tulis dengan jelas di atas, tidak ada yang saya kurangi dan lebihkan. Saya tulis apa adanya berdasarkan apa yang saya rasakan. Lalu menurut mas vroh gimana? Jika sampean mencari motor matik 125cc yang nyaman, fitur banyak, jok empuk, suspensi mantap Yamaha Lexi S 125 jawabannya. Untuk orang yang sudah punya keluarga pun saya pikir cocok banget, jok lebar dan panjang. Dek depan dan bagasi bisa untuk menaruh barang bawaan. Dengan teknologi mesin blue core, soal konsumsi bbm pasti irit, apalagi cuma 125cc.

Soal power dan torsi cukup lah, naik motor matik 125cc emang mau kebut-kebutan terus? Bukannya motor matik yang dicari adalah soal kenyamanan? Soal kekurangan tentu pasti ada, nanti saja deh saya buatkan tulisan terpisah soal kelebihan dan kekurangan Yamaha Lexi 125. Biar gak jenuh bacanya vroh! Kalau sampean gak percaya tulisan review Yamaha Lexi 125 dari saya, sebaiknya coba sendiri. Jadi biar tau benar atau enggak, enak kan?

Review Yamaha Lexi 125

Sekian coretan sederhana mengenai review Yamaha Lexi 125, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Apalagi yang sedang mencari referensi tentang motor maxi skutik ini. Terus kalau dibandingkan dengan kompetitor bagaimana? Sabar, saya belum nyobain, besok kalau sudah nyoba pasti saya tulis koq.

Salam foging pistun motor teknologi jadul bin ngebul tapi gak ngibul.

About SemarMoto 842 Articles
AUTOMOTIVE NEWS | REVIEW | SHARING

15 Komentar

  1. Judulnya kelebihan dan kekurangan, eh tapi kok isinya baru kelebihan sj
    Belum nampak kekurangannya
    Misal: Bagasi cukup gak buat naruh helm half face, tampilan speedometer terlihat gak di terik matahari, terus CVT ada gredeg-gredeg gak kyk merk sebelah, dan kekurangan-kekurangan subjektif lainnya. Namanya penilaian per orang, unsur subjektifitas pasti ada, gak mutlak sama.
    Nanti minta ijin bawa pulang mas, buat test night riding. Buat test performa lampunya
    Terimakasih

    • Begini mas, awalnya memang mau saya tulis semua seperti di judul, tapi ternyata sudah panjang banget, terpaksa saya cut biar yang baca gak jenuh. Proses ngetik dan milih fotonya itu 3 jam.

      Kalau soal untuk test harian malah sudah ditawari, tapi baru saya pikirkan dulu, mau diapain ntar. Hehehe…

  2. Hayuh om diterusin ceritanya nanti ya. Enak bacanya. Postur badan juga sama jadi mewakili dah. Klo baca tulisanya asik sambil ngeteh makin mantab hehe.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.